KETERGANTUNGAN INDONESIA TERHADAP MINYAK OLAHAN PRODUKSI SINGAPURA




KETERGANTUNGAN INDONESIA TERHADAP
MINYAK OLAHANPRODUKSI SINGAPURA
Risna Guntar Perdana
Jurusan Hubungan Internasional, Program Pasca Sarjana Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik,
Universitas Padjajaran, Jl. Dago Asri 25, Bandung, Indonesia.




 Pendahuluan
Perkembangan Ekonomi dunia yang begitu pesat telah meningkatkan kadar hubungan saling ketergantungan dan mempertajam persaingan, yang menambah semakin rumitnya strategi pembangunan dengan mengandalkan ekspor. Di lain pihak hal itu merupakan suatu tantangan dan kendala yang membatasi. Di pihak lain, hal tersebut merupakan peluang baru yang dapat dimanfaatkan untuk keberhasilan pelaksanaan pembangunan nasional. Bahkan beberapa negara memanfaatkan hal tersebut untuk saling membuka kerja sama yang 
menguntungkan baik dalam lingkup internasional, regional, maupun bilateral. Kerja sama yang dilakukan pun memiliki bermacam-macam motif dengan tujuan yaitu untuk mendapatkan keuntungan serta mencapai kesejahteraan bagi masing-masing pelaku kerja sama itu.Indonesia merupakan negara yang memiliki banyak pulau dan penduduk yang 
banyak. Luas dan tersebarnya wilayah Indonesia membuat antara satu wilayah dengan yang lain tidak dapat terjangkau dengan mudah. Ditambah dengan peningkatan jumlah penduduk, kegiatan perekonomian menjadi lebih meningkat. Meningkatnya kegiatan di bidang perekonomian tersebut menyebabkan semakin tingginya kebutuhan akan penggunaan energi, yang tidak lain energi itu berasal dari sumber bahan bakar minyak. Secara langsung, hal ini memberikan pengaruh pada terjadinya meningkatan dalam konsumsi Bahan Bakar 
Minyak (BBM), bahkan konsumsi penggunaan BBM dinilai telah melampaui quota yang ditetapkan di dalam APBN.Berdasarkan data realisasi konsumsi BBM subsidi tiga tahun terakhir, konsumsi BBM pada 2012 mencapai 45 juta kiloliter (KL) atau naik 3,02 juta KL 
dibandingkan tahun 2011 yang sebesar 41,76 juta KL. Sementara realisasi konsumsi BBM subsidi 2010 sebesar 38,26 juta KL.1BBM sendiri merupakan salah satu bentuk dari minyak olahan.Tingginya konsumsi minyak olahan tidak hanya terjadi di Indonesia saja. Hampir di seluruh negara di dunia memiliki kebutuhan yang sama bahkan lebih tinggi lagi, yang 
tentunya membutuhkan penggunaan minyak olahan sebagai energi utamanya. 
Konsumsi minyak olahan setiap tahun terus mengalami kenaikan yang signifikan.Tingginya konsumsi minyak olahan tersebut harus diimbangi dengan tingginya angka produksi minyak tersebut pula, untuk mencukupi kondisi tersebut.Beberapa perusahaan-perusahaan 
dari negara besar di dunia dengan kemampuan tekhnologinya berusaha untuk 
mengembangkan industriproduksi minyak mentah menjadi minyak olahan.Di kawasan Asia Tenggara sendiri yang merupakan kawasan konsumen energi minyak dan gas berusaha untuk memproduksi minyak olahan dari sumber yang ada.Salah satu negara yang 
merupakan pengolah minyak olahan adalah Singapura, meskipun kita ketahui negara tersebut tidak memiliki eksplorasi maupun eksploitasi minyak.Singapura 
memiliki kilang minyak tercanggih di dunia.Sehingga hanya dengan membeliminyak mentah dari mana-mana kemudian minyak tersebut diproduksi dan di ekspor kepada negara-negara di dunia, termasuk Indonesia dan mungkin Singapura dapat menjadi pusat perdagangan minyak bumi dan gas di Asia Tenggara. Selain canggih, kilang minyak di Singapura juga 
merupakan terbesar di Asia Tenggara.Jika dibandingkan dengan Indonesia, kapasitas 
kilang minyak Singapura lebih besar dengan besarnya untuk cadangan BBM terhadap warga negaranya.Singapura memiliki 4,7 juta penduduk, mempunyai kapasitas kilang mencapai 1,3 juta barel lebih per hari dan dapat sebagai cadangan BBM untuk 90 hari. Sedangkan Indonesia hanya hanya 800.000 barel per hari, untuk240 juta jiwa penduduk dan untuk cadangan selama 21 hari.

          Tingginya kebutuhan yang mengharuskan penggunaan energi membuat angka konsumsi BBM di Indonesia naik.Total kebutuhan konsumsi BBM di Indonesia yang mencapai 1,4 juta barel BBM per hari. Prroyeksi kebutuhan BBM nasional dalam kajian ini 
menggunakan asumsi antara lain: pertumbuhan jumlah penduduk (rata-rata 1,05% per tahun), pertumbuhan ekonomi (rata-rata 6,5% per tahun), discount rate 12% dan harga minyak mentah dunia USD 80 per barel.Melalui perhitungan tersebut, kebutuhan BBM (tidak termasuk biofuel) diproyeksikan meningkat rata-rata 3,18% per tahun selama tahun 2006 s.d. 2030. Konsumsi bensin dan ADO tumbuh rata-rata 5,68% per tahun dan 2,18% per tahun sedangkan konsumsi minyak tanah (kerosene) turun rata-rata 2,97% per tahun. Dari sisi pengguna, sektor transportasi tumbuh rata-rata 5% per tahun dan sektor PKP (pertanian, konstruksi dan pertambangan atau ACM) tumbuh rata-rata 5,31% per tahun.Dihadapkan dengan angka produksi BBM di Indonesia yang hanya mencapai 649.000 bph, tidak mungkin lagi untuk mencukupi kebutuhan BBM di Indonesia.6Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dikutip melalui Detik Finance, Selasa (11/2/2014), sepanjang 2013 lalu Indonesia mengimpor hasil minyak atau BBM dengan total US$ 28,56 miliar atau sekitar Rp 285 triliun, berjumlah 29,6 juta ton. Dari jumlah itu, nilai impor BBM dari Singapura adalah 
US$ 15,145 miliar atau sekitar Rp 151 triliun. Jumlah BBM yang diimpor Indonesia dari Singapura mencapai 29,6 juta ton.Tidak hanya dari Singapura saja, Indonesia juga mengimpor minyak dari negara-negara lainnya. Sepanjang tahun 2013, impor minyak dari negara-negara tersebut adalah sebagai berikut ;Malaysia, dengan nilai US$ 6,4 miliar atau Rp 64 triliun, jumlahnya mencapai 6,7 juta ton. Korea Selatan, dengan nilai US$ 2,53 miliar atau sekitar Rp 25 triliun, jumlahnya 2,7 juta ton. Kuwait, dengan nilai US$ 906 juta atau sekitar Rp 9 triliun, jumlahnya 1,07 juta ton. Arab Saudi, dengan nilai US$ 709 juta atau sekitar Rp 7 triliun, jumlahnya 735 ribu ton.Qatar, dengan nilai US$ 538 juta atau sekitar Rp 5 triliun, jumlahnya 562 ribu ton.Uni Emirat Arab, dengan nilai US$ 367 juta atau sekitar Rp 3 triliun, jumlahnya 371 ribu ton.Taiwan, dengan nilai US$ 312 juta atau sekitar Rp 3 triliun, jumlahnya 310 ribu ton.Rusia, dengan nilai US$ 261 juta atau sekitar Rp 2 triliun lebih, jumlahnya 277 ribu ton.China, dengan nilai US$ 257 juta atau sekitar Rp 2 triliun lebih, jumlahnya 245 ribu ton.Sisanya dari negara lain, dengan nilai US$ 1,05 miliar atau Rp 10 triliun lebih jumlahnya 1,01 juta ton.

Pola Ketergantungan

   Kerja sama yang dilakukan oleh Indonesia dengan Singapura mengenai minyak bumi telah memberikan keuntungan yang cukup signifikan. Bagi Indonesia, keuntungan didapatkan melalui ekspor minyak mentah ke negara-negara produsen minyak olahan. Dengan melihat 
data pada Berita Resmi Statistik Badan Pusat Statistik (BPS), Ekspor Indonesia pada Desember 2013 mengalami peningkatan sebesar 6,56 % dibanding November 2013, yaitu dari US$15.938,6 juta menjadi US$16.983,6 juta. Bila dibandingkan dengan Desember 2012, ekspor mengalami peningkatan sebesar10,33 %. Peningkatan hasil ekspor Indonesia secara keseluruhan disebabkan oleh ekspor migas yang naik sebesar 23,07%, yaitu dari US$2.766,9 juta menjadi US$3.405,1 juta. Lebih lanjut peningkatan ekspor migas disebabkan oleh naiknya ekspor minyak mentah sebesar 12,49 % menjadi US$858,6 juta dan ekspor hasil minyak sebesar 84,52 % menjadiUS$500,8 juta, demikian juga ekspor gas meningkat sebesar 18,10 % menjadi US$2.045,7 juta.Dalam kasus perdagangan minyak bumi, Singapura sebenarnya merupakan importir minyak yang sangat besar yang mendatangkan 
minyak mentah dari berbagai negara termasuk dari Indonesia. Meski tidak memiliki cadangan minyak, Singapura mengoperasikan kilang pengolahan minyak yang sangat besar di pulau Jurong yang dikelola oleh tiga perusahaan, yaitu Exxon Mobil Jurong Island Refinery, berkapasitas 605.000 barel per hari; Singapore Refinery Company Jurong Island Refinery, berkapasitas 285.000 barel per hari; dan Shell Pulau Bukom Refinery, berkapasitas 458.000 barel per hari. Jadi Singapura memiliki kilang minyak berkapasitas total 1.348.000 bareoleh ekspor migas yang naik sebesar 23,07 %, yaitu dari US$2.766,9 juta menjadi US$3.405,1 juta. Lebih lanjut peningkatan ekspor migas disebabkan oleh naiknya ekspor minyak mentah sebesar 12,49 % menjadi US$858,6 juta dan ekspor hasil minyak sebesar 84,52 % menjadi US$500,8 juta, demikian juga ekspor gas meningkat sebesar 18,10 % menjadi US$2.045,7 juta.Dalam kasus perdagangan minyak bumi, Singapura sebenarnya merupakan importir minyak yang sangat besar yang mendatangkan minyak mentah dari berbagai negara termasuk dari Indonesia. Meski tidak memiliki cadangan minyak, Singapura mengoperasikan kilang pengolahan minyak yang sangat besar di pulau Jurong yang dikelola oleh tiga perusahaan, yaitu Exxon Mobil Jurong Island Refinery, berkapasitas 605.000 barel per hari; Singapore Refinery Company Jurong Island Refinery, berkapasitas 285.000 barel per hari; dan Shell Pulau Bukom Refinery, berkapasitas 458.000 barel per hari. Jadi Singapura memiliki kilang minyak berkapasitas total 1.348.000 barel per hari. Dengan industri kilang yang mampu memberikan added valueseperti ini, singapura menjadi ―negara jasaoleh ekspor migas yang naik sebesar 23,07 %, yaitu dari US$2.766,9 juta menjadi US$3.405,1 juta. Lebih lanjut peningkatan ekspor migas disebabkan oleh naiknya 
ekspor minyak mentah sebesar 12,49 % menjadi US$858,6 juta dan ekspor hashasi
minyak sebesar 84,52 % menjadi US$500,8 juta, demikian juga ekspor gas 
meningkat sebesar 18,10 % memenjadi $2.045,7 juta. Dalam kasus perdagangan minyak bumi, Singapura sebenarnya merupakan importir minyak yang sangat besar yang mendatangkan minyak mentah dari berbagai negara termasuk dari Indonesia. Meski tidak
memiliki cadangan minyak, Singapura mengoperasikan kilang pengolahan minyak yang sangat besar di pulau Jurong yang dikelola oleh tiga perusahaan, yaitu Exxon Mobil Jurong Island Refinery, berkapasitas 605.000 barel per hari; 
Singapore Refinery Company Juron island Refinery, berkapasitas 285.000 barel per hari; dan Shell Pulau Bukkom refinery, berkapasitas 458.000 barel per hari. Jadi Singapura memiliki kilang minyak berkapasitas total 1.348.000 barel per hari. Dengan industri kilang yang mampu memberikan added valueseperti ini, singapura menjadi ―negara jasa yang mampu hidup hanya dengan membeli bahan baku dengan harga murah dan mengolahnya menjadi bahan jadi yang dilepas dengan harga yang lebihmahal. Tingginya penjualan minyak olahan dari Singapura dihadapkan dengan bahan mentah yang diperoleh dengan harga murah merupakan keuntungan bagi negara tersebut.Permasalahan mengenai hubungan timbal balik antara Indonesia dengan Singapura mengenai bidang perekonomian 
terutama di sektor minyak, merupakan cermin dari adanya hubungan timbal balik 
yang dipengaruhi oleh faktor sekitarnya.Indonesia yang memiliki laju 
pertumbuhan ekonomi dengan baik, berusaha untuk mempertahankan kondisi 
tersebut, yang berakibat salah satunya adalah membuat terjadinya peningkatan 
terhadap konsumsi minyak olahan.Kondisi awal inilah membuat Indonesia dan 
Singapura terjadi interdependensi.Di satu sisi Indonesia memiliki kekayaan minyak 
mentah yang diekspor salah satunya kepada Singapura. Dari minyak mentah Indonesia tersebut, oleh Singapura diolah menjadi minyak yang siap pakai dan selanjutnya diekspor ke negara lain termasuk Indonesia di dalamnya. Semakin berkembangnya laju pertumbuhan ekonomi kedua negara tersebut, kebutuhan untuk energi menjadi meningkat.Bagi Indonesia, kondisi ini memberikan pengaruh yang sangat besar. Kebutuhan 
akan minyak olahan yang tinggi, tidak mampu dicukupi dengan produksi minyak 
yang ada, dan membuat Indonesia menjadi importir minyak olahan. Belum mampunya Indonesia untuk memproduksi minyak dalam jumlah yang besar, membuat 
Indonesia harus tergantung pada impor minyak olahan.Salah satu impor terbesar Indonesia adalah dari produksi minyak Singapura.Hal inilah yang menyebabkan terjadi ketergantungan Indonesia terhadap Singapura.Sebaliknya bagi Singapura sendiri, untuk memproduksi minyak olahan membutuhkan bahan mentah dari negara penghasil minyak.Untuk mendapatkan keuntungan yang tinggi, maka Singapura mengimpor minyak mentah dari beberapa negara, termasuk Indonesia. Kebutuhan minyak mentah Singapura sendiri dapat tercukupi dari beberapa negara itu, dan keberadaanminyak mentah Indonesia tidak membuat Singapura tergantung pada Indonesia. Ketergantungan Indonesia terhadap Singapura tersebut juga diungkapkan oleh Wakil Menteri ESDM, Susilo Siswoutomo, Indonesia selama ini yang mampu hidup hanya dengan membeli bahan baku dengan harga murah dan mengolahnya menjadi bahan jadi yang dilepas dengan harga yang lebih mahal. Tingginya penjualan minyak olahan dari Singapura dihadapkan dengan bahan mentah yang diperoleh dengan harga murah merupakan keuntungan bagi negara tersebut.Permasalahan mengenai hubungan timbal balik antara Indonesia dengan Singapura mengenai bidang perekonomian 

    bergantung pada impor BBM untuk memenuhi tingginya kebutuhan konsumsi BBM seiring dengan pertumbuhan ekonomi yang meningkat. Kalau Singapura dan Malaysia tidak ekspor 
BBM, dalam waktu lima hari kita (Indonesia) bisa meninggal. Sebab kita punya banyak pesawat tempur, nah itu mau diisi apa kalau bukan BBM. Mau diisi air?Beliau juga menambahkan Jadi total impor BBM, minyak mentah dan solar per hari bisa mencapai 800 ribu-900 ribu barel per hari.Dan nilai impornya bisa menyentuh sekitar US$ 120 juta per hari 
(dengan asumsi harga minyak US$ 120 per barel).20Kondisi inilah yang membuat pola hubungan antara Indonesia dan Singapura menjadi asimetris atau tidak seimbang.Dimana Indonesia yang sangat bergantung pada minyak olahan produksi Singapura, dan sebaliknya bagi Singapura sendiri, keberadaan minyak mentah Indonesia tidak terlalu memberikan pengaruh bagi Singapura.


Penyebab Ketergantungan

        Kerja sama yang dilakukan oleh Indonesia dan Singapura dalam mencapai absolute gains terus berjalan. Dengan mengikuti pertumbuhan ekonomi dan dinamika yang terjadi baik dalam lingkup internasional, regional, dan bilateral kedua negara tersebut, kerja sama di sektor minyak terus mengalami peningkatan. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi juga memberikan pengaruh pada penggunaan energi terutama dari sektor minyak.Semakin tingginya angka pertumbuhan perekonomian, akan membuat kebutuhan energi dalam menjalankan kegiatan perekonomian tersebut semakin tinggi. Tingginya kebutuhan energi inilah yang membuat konsumsi minyak yang sudah diolah menjadi tinggi.Dalam pembahasan masalah ini, di Indonesia sendiri penggunaan minyak sebagai sumber energi terbesar pada bidang transportasi dan industri.Kita melihat dari penggunaan minyak olahan 
untuk transportasi yaitu sebagai bahan bakar kendaraan bermotor di Indonesia saja, setiap tahunnya selalu mengalami peningkatan yang dikarenakan penggunaan kendaraan yang terus mengalami peningkatan. Berdasarkan Data Korps Lalu Lintas Kepolisian Negara Republik Indonesia, jumlah kendaraan yang masih beroperasi di seluruh Indonesia pada 2013 mencapai 104,211 juta unit, naik 11 % dari tahun sebelumnya (2012) yang cuma 
94,299 juta unit. Dari jumlah itu, populasi terbanyak masih disumbang oleh sepeda motor dengan jumlah 86,253 juta unit di seluruh Indonesia, naik 11 % dari tahun sebelumnya sekitar 77,755 juta unit. Jumlah terbesar kedua disumbang mobil penumpang dengan 10,54 juta unit, yang juga naik 11 % dari tahun sebelumnya yaitu sebanyak 9,524 juta unit. Populasi mobil barang (truk, pick up, dan lainnya) tercatat 5,156 juta unit, naik 9 % dari 4,723 juta unit. Banyaknya jumlah kendaraan ini membuat penggunaan minyak olahan semakin meningkat, karena kendaraan tersebut berbahan bakar dari minyak hasil olahan. Bahkan penggunaan 
minyak olahan tersebut mencapai angka 1,4 juta barel per harinya. Namun dengan melihat kondisi produksi minyak olahan yang dilakukan oleh Indonesia sendiri, jumlah tersebut sulit untuk terpenuhi.Produksi minyak olahan Indonesia hanya mampu memproduksi sebanyak 649.000 bph.

              Impor minyak olahan Indonesia dari Singapura merupakan salah satu bentuk interdependensi ekonomi dengan negara sebagai aktor. Interdependensi yang terjadi tersebut merupakan salah satu dampak dari adanya modernisasi di bidang tekhnologi saat ini.Perkembangan tekhnologi saat ini mengharuskan digunakannya mesin sebagai alat pembantu kehidupan manusia dan mesin tersebut membutuhan adanya bahan bakar yang merupakan minyak olahan. Interdependensi itu sebenarnya merupakan turunan dari perspektif Liberalisme yang mengedepankan adanya kerjasama antara satu aktor dengan yang lain. Liberalisme interdependensi memiliki asumsi bahwa modernisasi akan meningkatkan tingkat interdependensi antar negara. Aktor transnasional menjadi semakin penting, kekuatan militer merupakan instrumen yang tidak absolut dan kesejahteraan merupakan tujuan yang dominan dari negara. Interdepensi kompleks akan menciptakan dunia hubungan internasional yang jauh lebih kooperatif. Semakin berkembang dan meningkatnya teknologi, secara tidak langsung akan mempengaruhi terhadap interdependensi antara Indonesia dan Singapura melalui penggunaan minyak olahan untuk memenuhi kebutuhan Indonesia tersebut.


Dampak Ketergantungan




     Konsumsi Indonesia terhadap minyak olahan produksi dari Singapura yang telah menimbulkan ketergantungan yang berkepanjangan. Jika melihat kondisi produksi minyak olahan di Indonesia, bukan tidak mungkin ketergantungan tersebut akan terus terjadi. Kondisi tersebut akan memberikan berdampak pada berbagai bidang seperti ekonomi dan 
politik baik bagi kedua negara tersebut, maupun kepada negara-negara lain yang berada di kawasan Asia Tenggara dan sekitarnya. Di bidang ekonomi sendiri, dengan adanya impor minyak olahan dari luar tentu saja jelas bahwa banyak kerugian karena banyak pengeluaran untuk belanja minyak olahan.Dengan demikian membuat keuangan negara menjadi sedikit 
mengalami kesulitan.Impor Indonesia dapat dibedakan dalam kelompok migasdan nonmigas. Nilai impor IndonesiaJanuari−Desember 2013 mencapai US$186.631,3 juta atau turun US$ 5.058,2 juta(2,64 persen) dibanding periode yang samatahun sebelumnya. Penurunan tersebutdipicu oleh turunnya impor nonmigas yaitu sebesar US$ 7.760,8 juta atau 5,20persen. Sebaliknya impor migas mengalami peningkatan US$ 2.702,6 juta
(6,35 persen). Secara lebih rinci peningkatan impor migas disebabkan oleh naiknya nilai impor minyak mentah dan gas masing-masing sebesar US$ 2.782,6juta (25,76 persen) dan US$ 31,4 juta(1,02 persen). Sementara impor hasil minyak turun sebesar US$ 111,4 juta (0,39 persen). 
                 Sebagaimana telah diuraikan di atas bahwa ketergantungan Indonesia terhadap 
minyak olahan produksi Singapura disebabkan karena tingginya konsumsi minyak olahan di kalangan masyarakat Indonesia.Dari tingginya angka konsumsi tersebut, Indonesia tidak dapat mengimbangi dengan produksi yang memadai, dikarenakan kondisi kilang minyak di Indonesia yang terbilang cukup tertinggal secara tekhnologi.Hal tersebut membuat Indonesia harus mengambil langkah dengan mengimpor minyak olahan dari negara luar.Dan pada akhirnya justru menjadi suatu ketergantungan terhadap produksi minyak olahan dari 
Singapura.Sampai saat ini hampir setengah minyak olahan yang kita konsumsi berasal 
dari negara Singapura.

DAFTAR PUSTAKA

Anak Agung Banyu Perwita dan Yanyan Moh Yani.2005. Pengantar Ilmu 
Hubungan Internasional. Bandung: Remaja Rosdakarya. Hal 78.
Berita Resmi Statistik, BPS. 2013.


Perkembangan Ekspor dan ImporIndonesia Desember 2013.Diakses

Jackson, R. dan Sorensen, G. 2005.Pengantar Studi Hubungan Internasional.Jakarta: Pustaka Pelajar.

John Baylis. 2008. The Globalization of world Politics : An Introduction toInternational Relations, Fourth Edition. Oxford: University Expres.Hal 132.

keistimewaan Habib luthfi pekalongan dimata abah uci




Video tersebut berisi keistimewaannya Habib luthfi pekalongan dimata abah uci... semoga dengan video tersebut dapat menambah rasa sayang kita kepada ulama

Korban Gempa bumi dan Tsunami di Palu

Korban jiwa akibat bencana gempa bumi dan tsunami di Palu dan Donggala di Sulawesi Tengah terus bertambah. Hingga pukul 13.00 WWIB, Selasa, 2 Oktober 2018, jumlah korban jiwa sudah mencapai 1.234 orang.
  Dalam keterangan pers yang disampaikan Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, korban luka berat 799 orang dan masih menjalani perawatan di rumah sakit. Sementara jumlah korban hilang tercatat sebanyak 90 orang.
"Data terbaru sampai pukul 13.00 wib, ada 1.234 orang meninggal dunia. Korban itu di Palu, Donggala, Sigi dan Parigi Moutong," kata Sutopo di kantornya, Selasa, 2 Oktober 2018.
Dari pendataan awal yang dilakukan BNPB, korban tertimbun akibat terjangan tsunami dan gempa mencapai 152 orang. Akibat bencana itu, ada 65.000 rumah warga yang rusak.
"Korban tertimbun 152 orang. Sementara itu pengungsi 61.000. Rumah rusak 65.000," katanya.
Penanganan darurat bencana gempa Palu masih terus dilakukan. Meski kerusakan dan jumlah korban jiwa akibat bencana ini cukup banyak, tapi pemerintah belum memutuskan kejadian ini sebagai bencana nasional.
Pemerintah memilih untuk bergerak cepat, tanpa harus menunggu perubahan status bencana nasional atau tidak. Sebab yang lebih penting daripada itu ialah penanganan cepat dan tepat, alih-alih masalah prosedur atau administrasi, status bencana daerah atau bencana nasional, dan lain-lain.

Semoga masyarakat di palu di kuatkan hatinya dalam menjalankan ujian dari tuhan
Sumber berita:

Pemerintah Inggris berikan bantuan 38M untuk Gempa di palu

Jakarta - Pemerintah Inggris menyetujui bantuan dana untuk bencana gempa dan tsunami yang terjadi di Palu dan Donggala. Bantuan yang disetujui senilai Rp 38 miliar. 

"Saya ingin mengucapkan turut berdukacita atas jatuhnya korban-korban di gempa dan tsunami di Palu. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan dan kesabaran," kata Dubes Inggris di Indonesia Moazzam Malik, Selasa (2/10/2018). 
"Pemerintah Inggris, dalam hal ini Menteri Pembangunan Internasional Inggris, telah menyetujui bantuan kemanusiaan senilai Rp 38 miliar," imbuhnya. 
Pernyataan Moazzam Malik tersebut berdasarkan rilis yang diterima dari Kepala Media Komunikasi Kedubes Inggris John Nickell. 

Moazzam menyatakan saat ini pihak Kementerian Pembangunan Internasional Inggris tengah dalam perjalanan ke Indonesia untuk mengkoordinasikan bantuan tersebut. 

"Tim dari kementerian tersebut sedang menuju ke Jakarta untuk mengkoordinasikan bantuan kemanusiaan, khususnya dengan pemerintah Indonesia," tutur Moazzam.
Selain itu, pihak pemerintah Inggris mengupayakan mendistribusikan bantuan selain berupa uang. Bantuan yang dimaksud antara lain tenda, selimut, hingga dapur portabel yang saat ini berada di Dubai. 

"Kami juga berhubungan dengan maskapai untuk memindahkan bahan-bahan tersebut ke Palu atau bandara-bandara besar sekitar daerah darurat," tutur Moazzam. 

sumber berita:
https://m.detik.com/news/berita/4239462/inggris-setujui-bantuan-rp-38-m-untuk-bencana-gempa-tsunami-palu#top

Religion and Political Behavior


Musik dan Budaya

Musik dan Budaya





A. Fokus kajian budaya dalam melihat  musik
Budaya dalam melihat musik dimana budaya selalu menjadi kunci antara musik populer dan terus menerus untuk menjelaskan bagaimana musik dan budaya secara abstrak. Budaya merupakan pertimbangan sebagai suatu paksaan atau sesuatau yang dipaksakan yang memanifestasikan dirinya ke dalam isu-isu seperrti kebosanan remaja, ketegangan ras dan exploitasi sexual. Bertolak dari adanya determinsime budaya, menurut Hebdige (Bennett, 2008) secara musk populer sering kali dibaca secara harfiah dengan teori musik populer adalah sebagai cerminan pada kenyataan, contohnya punk selalu di asumsikan atau digambarkan kemarahan dan kekecewaan.
Banyak akademisi musik populer yang dapat menjadi sumber acuan dalam menkonstruksikan analisa mengenai musik dan budaya. Willis dengan karyanya yang berjudul Profane Culture pada tahun 1978. Dimana dalam karyanya Willis yang berjudul Profan Culture itu mengkombinasikan sebuah pendekatan etnografi sosiologi tradisional dengan teroi dalam melihat hubungan antara budaya dan musik. Etnografi Willis mengkontraskan selera musik pada dua kelas dalam kelompok budaya, yaitu “bikers” dan “hippies”. Willis utamanya melihat dan memaknai musik dalam mengungkapkan proses sosial dimana dia mendasari formasi dari selera musik. Konsep willis tentang musik populer telah di adopsi dan diadaptasi dengan teori musik populer sebagai cara untuk menjelaskan genre musik sebagai ekspresi dari hubungan kelas.
Marcus Breen dalam kajiannya mengenai heavy metal dimana dia menggambarkan genre heavy metal menggambarkan ekspresi patrarki dan sifat misogynistic atau kebencian terhadap wanita melalui cara komersialisme band heavy metal yang muncul. Budaya sebagai penjaga yang mana didalamnya terdapat aktor, membentuk persepsi. Sama halnya dengan Cavicchi, dalam karyanya yang berjudul Tramps Like Us tahun 1998. Menggunakan pendekatan etnografi dalam menempatkan dan memahai bagaimana penggemar dari penyanyi rick US. Dalam pandangnnya, terutama usaha untuk menanamkan arti pentingnya diihat dari otrang-orang dari pengalamaan mereka dalam refleksi yang lambat dikeadaan sehari-hari.
B. Sosiologi dalam musik populer dan perubahan budaya
Meskipun budaya mjendominasi pendektaannya terhadap musik populer, sosiologi juga memiliki peranan penting dan berkontribusi dalam menganalisis musik populer. Kajian penting dalam melihat musik yaitu dari Simon frith dalam kajiannya the sociology of rock dengan ambsisi berusaha menempatkan atau mengaplikasikan prespektif sosiologi pada masyarakat kapitalisme, kelas, ras dan gender untuk memahami musik populer dalam ketiga gambarann luas, yaitu industri, penampilan dan penonton.
Frith dengan perhatian yang jelas mengenai pendekatan teori  untuk melihat esensi dari pemahaman musik dalam model top-down secara abstrak dan jengka panjang dan diperkuat dengan esai, dia secara langsung menantang lisensi akademis sosiologi untuk menginterpretasikan signifikansi musik populer. Bagi Frith, analisis top-down musik dalam ekonomi politik di industri musik atau keaslian artis musik populer menjelaskan kepada kita bagaimana bekerja pada tingkat level. Namun, sama pentingnya dalam hal ini menyatukan antara estetika dan nilai penonton itu sendiri.
Sosiolog Perancis memberikan argumentasi mengenai musik sebagai sebuah cerminan dari sosial dan budaya, dia melihat lebih kepada aksi dari musik  yang menginterpretasikan dan memiliki pemahaman konsekuensi dimana musik tidak pernah lepas dari konsumsi khalayak. Peter Martin memiliki pandangan dimana ada pengaruh antara suara dan masyarakat. Marti mengaplikasiskan konstruksi sosial melihat bagaimana pemahaman musik, gagasan yang dipegang secara uas mengenai musik merupakan cerminan secara langsung kondisi sosial dimana dia di produksi.
Pertengahan tahun 1990, kenaikan atau kemajuan dalam kehidupan sosial sering disebut dengan perubahan budaya atau perubahan sosial yang mengarah kesegala aspek kehidupan tak terkecuali budaya. Perubahan budaya mengarah pada pertanyaan untuk mengerti struktur sosial dan dampaknya terhadap kehidupan msyarakat. Lewis menginterpretasikan hubungan antara selera musik, identitas dan gaya hidup. Menurut lewis hubungan antara musik tidak begitu jelas, dalam msyaraat dibawah kondisi relatif memiliki mobilitas sosial yang tinggi, pendapatan tinggi, mudah, distribusi yang efisien. Lewis mengaplikasikan konsep selera budaya dasarnya berkembang,
Lewis mengidentifikasikan tuga dimensi yang menadasari formasi seleara budaya yaitu demografi, aestetik dan politik. Demografi dalam catetan Lewis memiliki faktor seperti usia, gender, ras dan lokasi. Aestetik menurut Lewis adalah bagaiaman personal terlihat. Dan politik konotasinya merasakan hubungan bagian dari individu antara genre musik dan dominasi strukture kekuasaan.
C. Dinamika hubungan musik dengan globalisasi dan identitas suatu masyarakat
Identitas menurut Marx dibedakan menurut status sosial, Identitas adalah simbolisasi ciri khas yang mengandung diferensiasi dan mewakili citra individu. contoh: musik jazz mengidentitaskan status sosial high class sedangkan musik dangdut mengidentitaskan musik down class / class bawah. Pandangan Globalisasi Sosial Budaya. Menurut Simon Kemoni, sosiolog asal Kenya mengatakan bahwa globalisasi dalam bentuk yang alami akan meninggikan berbagai budaya dan nilai-nilai budaya. Dalam proses alami ini, setiap bangsa akan berusaha menyesuaikan budaya mereka dengan perkembangan baru sehingga mereka dapat melanjutkan kehidupan dan menghindari kehancuran. Tetapi, menurut Simon Kimoni, dalam proses ini, negara-negara harus memperkokoh dimensi budaya mereka dan    memelihara struktur nilai-nilainya agar tidak dieliminasi oleh budaya asing.
Dan seorang penulis asal Kenya bernama Ngugi Wa Thiong’o menyebutkan bahwa perilaku dunia Barat, khususnya Amerika seolah-olah sedang melemparkan bom budaya terhadap rakyat dunia. Mereka berusaha untuk menghancurkan tradisi dan bahasa pribumi sehingga bangsa-bangsa tersebut kebingungan dalam upaya mencari indentitas budaya nasionalnya. Penulis Kenya ini meyakini bahwa budaya asing yang berkuasa di berbagai bangsa, yang dahulu dipaksakan melalui imperialisme, kini dilakukan dalam bentuk yang lebih luas dengan nama globalisasi.
Pengaruh Globalisasi Sosial Dan Budaya dimana Globalisasi dapat memperluas kawasan budaya. Globalisasi dapat timbulkan dampak negatif. Akibat dari pengaruh globalisasi seperti Disorientasi, dislokasi atau krisis sosial-budaya dalam masyarakat, berbagai ekspresi social budaya asing yang sebenarnya tidak memiliki basis dan preseden kulturalnya dan semakin merebaknya gaya hidup konsumerisme dan hedonisme. Sisi negatif globalisasi budaya diantaranya seperti akibatkan erosi budaya, lenyapnya identitas kultural nasional dan lokal, kehilangan arah sebagai bangsa yang memiliki jati diri, hilangnya semangat nasionalisme dan patriotisme dan cenderung pragmatisme dan maunya serba instant.
 kebudayaan satu dengan kebudayaan lain dapat diperbandingkan; salah satu kebudayaan pasti lebih tinggi dari kebudayaan lainnya. Artefak tentang "kebudayaan tingkat tinggi" (High Culture) oleh Edgar Degas. Prakteknya, kata kebudayaan merujuk pada benda-benda dan aktivitas yang "elit" seperti misalnya memakai baju yang berkelas, fine art, atau mendengarkan musik klasik, sementara kata berkebudayaan digunakan untuk menggambarkan orang yang mengetahui, dan mengambil bagian, dari aktivitas-aktivitas di atas. Sebagai contoh, jika seseorang berpendendapat bahwa musik klasik adalah musik yang "berkelas", elit, dan bercita rasa seni, sementara musik tradisional dianggap sebagai musik yang kampungan dan ketinggalan zaman
D. Tindakan yang mendorong timbulnya Globalisasi kebudayaan dan cara mengantisipasi adanya globalisasi kebudayaan .
Peran kebijaksanaan pemerintah yang lebih mengarah kepada pertimbangan-pertimbangan ekonomi daripada cultural atau budaya dapat dikatakan merugikan suatu perkembangan kebudayaan. Jennifer Lindsay (1995) dalam bukunya yang berjudul ‘Cultural Policy And The Performing Arts In South-East Asia’, mengungkapkan kebijakan kultural di Asia Tenggara saat ini secara efektif mengubah dan merusak seni-seni pertunjukan tradisional, baik melalui campur tangan, penanganan yang berlebihan, kebijakan-kebijakan tanpa arah, dan tidak ada perhatian yang diberikan pemerintah kepada kebijakan kultural atau konteks kultural.
Dalam pengamatan yang lebih sempit dapat kita melihat tingkah laku aparat pemerintah dalam menangani perkembangan kesenian rakyat, di mana banyaknya campur tangan dalam menentukan objek dan berusaha merubah agar sesuai dengan tuntutan pembangunan. Dalam kondisi seperti ini arti dari kesenian rakyat itu sendiri menjadi hambar dan tidak ada rasa seninya lagi. Melihat kecenderungan tersebut, aparat pemerintah telah menjadikan para seniman dipandang sebagai objek pembangunan dan diminta untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan simbol-simbol pembangunan. Hal ini tentu saja mengabaikan masalah pemeliharaan dan pengembangan kesenian secara murni, dalam arti benar-benar didukung oleh nilai seni yang mendalam dan bukan sekedar hanya dijadikan model saja dalam pembangunan.
Dengan demikian, kesenian rakyat semakin lama tidak dapat mempunyai ruang yang cukup memadai untuk perkembangan secara alami atau natural. Karena itu, secara tidak langsung kesenian rakyat akhirnya menjadi sangat tergantung oleh model-model pembangunan yang cenderung lebih modern dan rasional. Sebagai contoh dari permasalahan ini dapat kita lihat, misalnya kesenian asli daerah Betawi yaitu, tari cokek, tari lenong, dan sebagainya sudah diatur dan disesuaikan oleh aparat pemerintah untuk memenuhi tuntutan dan tujuan kebijakan-kebijakan politik pemerintah. Aparat pemerintah di sini turut mengatur secara normatif, sehingga kesenian Betawi tersebut tidak lagi terlihat keasliannya dan cenderung dapat membosankan.



Daftar Pustaka
Bennett. 2008. Toward a cultural Sociology of Popular Musik
Damono, Sapardi Djoko. 1997. Kebudayaan Massa dalam Kebudayaan Indonesia: Sebuah Catatan Kecil dalam Ecstasy Gaya Hidup: Kebudayaan Pop dalam Masyarakat Komoditas Indonesia, Mizan
Kuntowijoyo. 1997. Budaya Elite dan Budaya Massa dalam Ecstasy Gaya Hidup: Kebudayaan Pop dalam Masyarakat Komoditas Indonesia, Mizan


Kekerasan perempuan di dunia kerja

Perempuan dalam lingkungan kehidupan sosial, memiliki peran yang sangat kompleks. Perempuan dapat menjadi ibu rumah tangga juga sebagai pencari nafkah kedua, jika suami tidak dapat memenuhi atau menutupi kekurangan kebutuhan ekonomi keluarga. Namun, anggapan kebanyakan di masyarakat masih menganut anggapan patriarki, dimana menganggap bahwa perempuan sebagai seorang istri tidak bisa bekerja di luar rumah dan hanya bekerja di lingkungan domestik rumah tangga.  Berbeda dengan kaum laki-laki sebagai seorang suami yang dapat bekerja di luar rumah. Dan anggapan yang berkembang telah memberian stereotype yang negatif terhadap kaum perempuan yang bekerja di luar rumah. Buktinya pada era modern ini banyak sekali perempuan berumah tangga yang sudah mulai menjadi pembantu pencari nafkah dala rumah tangga, walaupun perempuan tersebut akan menyebabkan ketidak adilan karna pekerjaan rumah sepenuhnya tanggung jawab pada peremuan atau ibu rumah tangga.
Ada beberapa faktor yang mendasari perempuan untuk bekerja, mulai dari kebutuhan keluarga dan kebutuhan pribadi seperti gaya hidup yang kurang terpenuhi, maka dari itu untuk mendapatkan tambahan penghasilan, perempuan bekerja sebagai pencari nafkah kedua setelah suami. Sering kali selain anggapan bahwa perempuan yang bekerja di luar rumah tidak baik. Perempuan yang bekerja juga sering mendapatkan perilaku yang buruk dari kaum laki-laki sebagai lawan jenis. Pelecehan seksual sangat sering terjadi pada kaum perempuan di tempat kerja karna laki-laki menganggap bahwa perempuan lah yang menyebabkan terjadinya pelecehan seksual karna perilaku dan cara berpakaiannya. Perempuan sering kali disalahkan ketika ia mendapat tindak pelecehan seksual, padahal tidak semua perempuan berpakaian yang minim dan perilakunya tidak mengundang hawa nafsu. Dengan begitu, pelecehan seksual di tempat kerja timbul itu karna ada hubungan kerja harian yang melibatkan sikap individu di dalam organisasi dan melibatkan golongan pria dan wanita (Abd. Rahim, 2003).
Pelecehan seksual yang terjadi di dalam suatu organisasi atau tempat kerja karena adanya stereotype dimana anggapan bahwa perempuan adalah makhluk yang lemah yang dapat untuk di rayu dan bekerja menggunakan hati, tidak seperti laki-laki yang bekerja menggunakan kekuatan dan rasionalitasnya. Perempuan dalam perkembangannya telah modern dan dapat mengikuti arus pekerjaan, sudah tidak lagi hanya bekerja di lingkungan domestik melainkan mengambil peran dalam lingkungan kerja di masyarakat. Namun, hal yang dapat mengahalangi suatu pekerjaan yang layak adalah jenjang pendidikan yang tinggi. Perempuan yang tidak memiliki jenjang pendidikan yang tinggi hanya mendapatkan suatu pekerjaan yang kurang prestise dalam masyarakat. Perempuan selalu berada dipaling bawah jika dalam bidang pekerjaan karna perempuan dianggap tidak bisa memimpin suatu pekerjaan disuatu tempat kerja, karna posisinya yang rendah maka perempuan sering sekali menjadi objek untuk pelecehan seksual pada laki-laki yang kebanyakan adalah atasan dari si perempuan tersebut.
Sebagai contohnya  adalah sales promotion girl (SPG) pekerjaan ini yang dapat digeluti kaum perempuan, dimana pekerjaan tersebut tidak memerlukan syarat yang berlebih seperti jenjang pendidikan yang tinggi  dan hanya membutuhkan paras yang menarik. Namun, pekerjaan sebagai seoarang SPG atau sales promotion girl memiliki banyak resiko yang dihadapi dalam masyarakat. Mulai dari penerimaan label buruk dalam masyarakat sebagai pekerjaan yang rendah dan bermodalkan penampilan seksi untuk menarik pelanggan produk yang ditawarkan. Perempuan yang bekerja sebagai SPG pun kerap mendapatkan perlakuan buruk atau tindakan pelecehan seksual di tempat kerja baik verbal maupun fisik. Kekerasan seksual dengan verbal dimana pelaku melontarkan kata-kata yang negatif, rayuan dan kalimat merendahkan. Sedangkan bentuk fisik seperti menyentuh dan memegang sisi tubuh wanita tanpa izin. Perilaku seksual di tempat kerja merupakan suatu kekerasan terhadap gender yang dilakukan oleh pria terhadap kaum wanita di tempat kerja (Brewer dan  Berk, 1982).

Kepercayan, sistem pemerintahan Bangsa inca, Bangsa Maya, bangsa Aztec dan peradaban india kuno

1   Kepercayaan dan sistem pemerintahan Bangsa Inca, bangsa maya dan bangsa Aztec Kepercayaan Bangsa Inca: Masyarakat Inca perca...